Menu

Mode Gelap
PATROLI SKALA BESAR RAMADHAN, SINERGITAS TNI-POLRI DAN SATPOL PP JAGA KONDUSIFITAS MOJOKERTO RAYA Dwit 3 Tahun Mandek, Wanita Ini Nekat Hadang Mobil KDM di Lapangan Den Sakti Tambun Selatan CEK FAKTA: Rilis Korp Brimob Polri Patroli Gabungan Amankan 5 Pemuda di Jaktim Adalah HOAX !! Pemilik Dapur SPPG Kasiman 1 Bojonegoro dan Yayasan Jaya Cahaya Lestari Di Polisikan Satgas Saber Pangan Tancap Gas Jelang HBKN, 9.138 titik Diawasi, Pelanggar Diberi Sanksi ! Penyidik JAM PIDSUS Menetapkan 11 Tersangka Dalam Perkara Ekspor CPO dan Turunannya (POME) Periode 2022-2024

IPTEK

Hasil Penelitian UNESCO Tahun 2020, Hampir 90 Persen Pengetahuan Berasal Dari Membaca

badge-check


					Hasil Penelitian UNESCO Tahun 2020, Hampir 90 Persen Pengetahuan Berasal Dari Membaca Perbesar

Barlam, RepublikNews – Berdasarkan hasil penelitian UNESCO tahun 2020 menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat memprihatinkan, yakni hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1000 orang Indonesia hanya satu orang yang rajin membaca. Demikian halnya dengan minat baca mahasiswa Indonesia masih rendah di banding dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapora dan Thailand.

Aktifitas para pelajar dan mahasiswa untuk memanfaatkan perpustakaan yang ada di sekolah dan di kampus – termasuk di Pondok Pesantren – masih sangat kurang. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI) provinsi Lampung, Gunawan Handoko saat menjadi narasumber pada acara Pelatihan Manajemen Perpustakaan Pondok Pesantren di Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, kemarin Kamis (25/3).

Namun demikian menurut Gunawan Handoko, kesalahan tidak bisa ditimpahkan sepenuhnya kepada mahasiswa. Rendahnya minat baca para mahasiswa tidak terlepas dari sistem pendidikan yang diterapkan di jenjang pendidikan sebelumnya, yakni sejak tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.

”Sistem pembelajaran di Indonesia selama ini belum membuat siswa merasa harus membaca buku lebih banyak dari apa yang disiapkan di sekolah”, ungkap Gunawan Handoko.

“selama ini buku pelajaran untuk para siswa sudah ditentukan oleh pihak sekolah, mulai dari judul, pengarang dan penerbitnya. Akibatnya para siswa maupun orang tua tidak merasa perlu lagi mencari informasi tambahan atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan di sekolah,” tambahnya.

Hal lain menurut pakdhe – panggilan akrab Gunawan Handoko, dorongan dari para guru agar para siswa membaca buku secara rutin juga sangat kurang. Sementara perpustakaan sekolah yang seharusnya menjadi tempat bagi para siswa untuk mencari bahan bacaan tambahan, justru keberadaannya sangat kurang menarik.

Selain jumlah bukunya yang terbatas, suasana ruangan yang ada juga kurang mendukung. ”Rendahnya minat baca para siswa ini ternyata berlanjut sampai di tingkat Perguruan Tinggi”, ujarnya seraya mengajak untuk melihat data kunjungan yang ada di perpustakaan, berapa banyak jumlah mahasiswa yang berkunjung setiap harinya. Lalu bandingkan dengan jumlah seluruh mahasiswa yang ada di kampus tersebut.
Perpustakaan baru terlihat ramai di saat menjelang ujian karena banyak mahasiswa mencari sumber referensi dari buku ataupun untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen.

Di hari-hari biasa, sebagian mahasiswa lebih banyak menggunakan teknologi internet dibandingkan dengan membaca buku. Padahal faktanya membaca buku atau literatur sumber referensi justru sangat penting bagi mahasiswa. Tanpa sadar, mahasiswa sekarang pada umumnya lebih banyak diperalat oleh teknologi, ujarnya. Untuk itu dirinya mengajak para mahasiswa dari prodi S1 Perpustakaan dan Informasi dan pustakawan dari Pondok Pesantren yang mengikuti acara pelatihan agar memahami tentang literasi secara utuh dan benar serta mengelola perpustakaan secara profesional.

”Ilmu pengetahuan yang berkembang secara cepat tidak mungkin lagi dapat dikuasai melalui proses mendengar atau transisi dari seseorang. Hampir 90 persen pengetahuan berasal dari membaca”, ujarnya.

Secara khusus Gunawan Handoko memberi apresiasi terhadap kehadiran peserta pelatihan dari kalangan Pondok Pesantren. Menurutnya pembudayaan gemar membaca perlu digalakkan di semua elemen masyarakat dan lembaga pendidikan, termasuk lembaga Pondok Pesantren melalui berbagai cara dan strategi dengan disesuaikan kurikulum yang ada.

Maka sangatlah tepat jika Pondok Pesantren melakukan gerakan literasi melalui pemberdayaan perpustakaan yang di kelola secara professional agar dapat melayani peserta didik pada pendidikan kesetaraan yang dilaksanakan di lingkungan pendidikan Pondok Pesantren tersebut.

Pada acara yang sama para peserta juga mendapatkan materi tentang manajemen pengelolaan Perpustakaan yang disampaikan oleh pustakawan madya dari Universitas Lampung, Sumar.

Reporter: Suroso, Pesisir Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

MPIR Jombang Jadikan Momentum HPN 2026, Sebagai Tapak Tilas Kebangkitan Pers untuk Sosial Kontrol Kebijakan Pemerintah

9 Februari 2026 - 19:57 WIB

AJT Serahkan Piagam Tali Asih Pers Kepada AKBP Muhammad Taat Resdi

2 Januari 2026 - 18:33 WIB

Gebyar Anniversary Ke-10 Media Berita TKP Di Shakila Guest House

21 Desember 2025 - 12:07 WIB

JNE Peduli Korban Bencana Sumatera dan Aceh Salurkan 500 Ton Bantuan Logistik

10 Desember 2025 - 13:09 WIB

FWJI “Go To Bali” Kunjungi Puri Ubud, Kapolsek Berikan Apresiasi

12 November 2025 - 21:49 WIB

Trending di POTRET
error: Content is protected !!