Menu

Mode Gelap
OTT Walikota Madiun, KPK Amankan 15 Orang PT. Adira Mojokerto Dan PT. DCM Berulah, Rampas Paksa Motor Nasabah Di Jl. Empunala Menteri PU Diminta Turun Tangan: FWJ Indonesia Ancam Aksi Demo Soal Dugaan KKN BWSS IV Kepri AJT Serahkan Piagam Tali Asih Pers Kepada AKBP Muhammad Taat Resdi Peserta Seleksi Perades Tulungrejo Tulungagung Ajukan Sanggah : Nilai Peserta SLTA 50, Lulusan S2 Hanya 35 Anak Purnawirawan Perwira Polisi Di Laporkan Kasus Penganiayaan 

BUDAYA

KONSTRIBUSI BUDAYA DAN FALSAFAH JAWA TERHADAP ARAS RELIGIUS BANGSA

badge-check


					KONSTRIBUSI BUDAYA DAN FALSAFAH JAWA TERHADAP ARAS RELIGIUS BANGSA Perbesar

Oleh : Moeljono Redjo Hadikoesoemo, Kepala Biro RepublikNews Malang Raya

Jawa, RepublikNews – Dalam Kawruh Kejawen, yang merupakan sumber budaya dan peradaban Jawa, memiliki pula konsep-konsep teologi dan mitologi sebagaimana ajaran agama. Adapun Jawa mengonsepkan ketuhanannya sebagai “tan kena kinayangapa” atau tidak bisa diperumpamakan dengan apapun, karena tidak terjangkau oleh yang “tan kena kinayangapa” tersebut kiranya merupakan konsep yang paripurna menjaga ke-Maha Esa-an Tuhan dari campur tangan pendapat dan penafsiran manusia. Oleh karena itu, menghasilkan kebebasan Jawa dalam menyikapi cara-cara umat manusia manembah kepada Tuhan. Tidak soal bagi pandangan Jawa semua tatacara sembahnya manusia kepada Tuhan. Inilah tingkat toleransi Jawa yang mungkin sulit dicari bandingannya di dunia. Bahkan kemudian menurut pandangan Jawa, adalah syah-syah saja bagi banyak manusia yang berbeda keyakinan agama melaksanakan ritual sembah kepada Tuhan secara bersama-sama. Sebagai bukti bisa disaksikan pada peninggalan arkeologis di Candi Plaosan (Candi Sewu) di Prambanan Klaten. Candi induknya adalah candi Buddha sedang candi-candi sekitarnya merupakan candi Hindu. Demikian pula pada candi-candi versi Jawa Timur jaman Kahuripan sampai dengan Majapahit. Bahwa candi-candi tersebut digunakan bersama untuk tempat ibadah umat Buddha dan umat Hindu Syiwa adalah ekspresi Jawa dalam bertoleransi antar agama di jaman dahulu kala..

Baca: http://www.republiknews.id/2019/06/13/modus-pinjam-uang-waspada-whatsap-di-sadap-orang-yang-tidak-bertanggung-jawab/

Pandangan Jawa dalam ber-Tuhan lebih kepada aplikasi dan implementasi keber-Tuhan-an itu sendiri dalam hidup sehari-hari. Boleh saja berbeda ritual, tetapi umat manusia adalah satu, sama-sama ciptaan Tuhan. Maka dalam kehidupan nyata sehari-hari harus mampu memberikan kontribusi kebaikan sebagai ekspresi keber-Tuhan-annya. Setiap orang diwajibkan “melu memayu hayuning bawana”, berkontribusi terhadap ke-hayu-an alam semesta seisinya yang sudah diciptakan Tuhan dalam keadaan hayu. Pada aras ini, maka konflik atau permusuhan antar sesama “titah dumadi” merupakan larangan besar. Titah dumadi dimaksud, bukan hanya manusia saja, tetapi seluruh mahluk ciptaan Tuhan yang kasat mata maupun tidak. Barangkali hanya pada pandangan Jawa saja yang memosisikan seluruh titah dumadi ciptaan Tuhan merupakan saudara bagi manusia. Pandangan ini dijelaskan pada mitologi Jawa yang menyatakan setiap manusia memiliki saudara-saudara spiritual yang menyertai hidupnya sebagai berikut :
1. “Sedulur Marmati” yang terjadi dari rasa “kumesare ati lan ngemar-emari sariraning biyung” saat akan melahirkan. Keluarnya dari dadanya Ibu dan selanjutnya menjadi pamomong spiritual manusia menjalani hidupnya.
2. “Sedulur Papat”, adalah roh dari “kawah-ari-ari – getih – puser”, perangkat janin (pancer) ketika berada dalam kandungan ibu. “Sedulur Papat” inilah yang kemudian menjadi penghubung spiritual manusia dengan alam semesta sehingga manusia tercukupi segala kebutuhan hidupnya.
3. “Sedulur tunggal dina kelairan (tunggal weton)”, adalah semua anak mahluk ciptaan Tuhan yang kasat mata maupun tidak yang lahir atau menetas dari telur bersamaan hari dengan manusia. Para “sedulur tunggal dina kelahiran” inilah yang kemudian menjaga dan ngreksa manusia dalam menjalani hidupnya.

Pada aras pandangan Jawa yang memosisikan seluruh mahluk adalah saudara, maka tidak ada musuh bagi manusia. Keluarannya berupa sikap wong Jawa yang secara alamiah merasa bersaudara dengan siapapun. Jika kemudian ada wong Jawa yang tidak memiliki watak “menyaudara”, maka dia bukan wong Jawa lagi.

Kesimpulannya, dari pijakan teologi dan mitologinya, Jawa bisa memberikan kontribusi wacana kerukunan umat manusia dimanapun berada. Jika kemudian di Jawa ada konflik antar wong Jawa yang berbeda agama, maka bukan aras Jawa yang menyebabkan konflik itu. Tetapi “kesempitan wawasan beragama” yang terdoktrinkan kepadanya. Juga atas dasar doktrin agama “sempit wawasan” itu yang kemudian menjadikan “wong Jawa beragama” menjastifikasi teologi dan mitologi Jawa (Javanologi) sebagai “klenik-tahayul-gugon tuhon”.

“Donya ora mung sagodhong kelor ambane”, demikianlah unen-unen Jawa yang bermakna dalam. Dunia ini bukan hanya Jawa thok ! Bukan pula Islam thok! Kristen thok! Buddha thok! Hindu thok! Bahkan bukan hanya manusia thok!

Kita, manusia, harus menyadari bahwa Tuhan secara jelas telah menciptakan manusia memenuhi dunia dan masing-masing memiliki budaya, peradaban dan kepercayaan sendiri-sendiri yang juga diyakini berasal dari Tuhan Yang Maha Esa pula. Wawasan yang demikian kiranya sangat dibutuhkan untuk mengampu perbedaan hingga keragaman itu menjadi bagian kehayuan semesta. (John)

Baca Lainnya

AJT Serahkan Piagam Tali Asih Pers Kepada AKBP Muhammad Taat Resdi

2 Januari 2026 - 18:33 WIB

Gebyar Anniversary Ke-10 Media Berita TKP Di Shakila Guest House

21 Desember 2025 - 12:07 WIB

JNE Peduli Korban Bencana Sumatera dan Aceh Salurkan 500 Ton Bantuan Logistik

10 Desember 2025 - 13:09 WIB

FWJI “Go To Bali” Kunjungi Puri Ubud, Kapolsek Berikan Apresiasi

12 November 2025 - 21:49 WIB

Tuban 732 Tahun: Dari Ronggolawe Majapahit ke Tuban Berdaya Karya

10 November 2025 - 18:00 WIB

Trending di ADVETORIAL
error: Content is protected !!