Siswa SMA Negeri 19 Surabaya Alami Trauma Berat Akibat Ucapan Kasar Oknum Guru

SURABAYA | Perlakuan dan ucapan kasar seorang tenaga pendidik terhadap muridnya tidak patut ditiru padahal seorang guru memberi contoh perilaku dan suri tauladan yang bagus baik ucapan maupun perlakuan.
Kejadian itu menimpa kepada seorang siswa bernama Hanny kelas XII IPA di SMA Negeri 19 Surabaya menjadi trauma hingga tidak ingin sekolah karena ucapan wali kelasnya inisial E. Hal tersebut membuat emosi orang tua memuncak dan akan membawa masalah ini ke ranah hukum.
Dikatakan Amin Wahyudi orang tua Hanny, bahwa mulai dari anaknya masih kelas X mulai tidak nyaman mengikuti kegiatan belajar karena ucapan guru seni budaya yakni E.
“Saat Hanny ditanya guru tersebut “kenapa sering tidak masuk sekolah ” Dan hanny pun coba menjelaskan belum sampai menjelaskan, guru tersebut melontarkan ucapan yang seharusnya tidak terucap dari seorang guru didik yaitu ak usah kakean omong tak kaplok (tidak usah banyak bicara tak tampar) dan ucapan itu dilontarkan di joglo besar waktu pelajaran praktek diluar kelas dan di saksikan oleh teman-temannya,” kata Amin menjelaskan.
“Akhirnya saya nemui Jaenuri kepala sekolah tapi sekarang sudah pindah tugas untuk pengunduran diri Hanny dari SMAN 19. Namun, kepala sekolah tidak mengizinkan dan akhirnya Hanny lanjut sekolah di SMAN 19,” sambungnya.
Dijelaskan oleh Amin, pada kelas XII Hanny pada mulai masuk 2 minggu pertama masuk sekolah anaknya masuk seperti biasanya. Namun, Hanny merasa down ketika mengetahui wali kelasnya adalah E.
“Setelah mengetahui wali kelasnya E anak saya merasa down dan mulai tidak nyaman karena trauma akan tetapi anak saya tetap masuk sekolah meskipun dengan keadaan gelisah dan resah,” ujarnya.
Amin menuturkan, Hanny tetap masuk sekolah meskipun sakit dan seiringnya waktu Hanny sering izin kerumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya padahal hasilnya sudah diberikan ke BK dan wali kelasnya.
“E ini seolah tidak percaya kalau Hanny ini sakit meskipun hasil dari rumah sakit sudah saya berikan. E ini sering tanya ke anak saya “kamu ini sakit apa sih” dan yang lebih miris lagi menurut keterangan dari temannya, Elok berkata biarkan saja hanny tidak masuk sekolah, hanny sudah kena mental dan sakit Hanny tidak bisa sembuh, ” tuturnya.
Akibat ucapan E, anaknya sering menjadi bully dan disindir teman-temannya sekelas sehingga anaknya merasa dikucilkan sehingga menjadi trauma tidak mau masuk sekolah lagi.
“Atas ucapan E anak saya trauma dan tidak mau masuk sekolah lagi padahal ujian kelulusan tinggal 3 bulan. Akhirnya, saya ke Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kota Surabaya dan bertemu pengawas sekolah Hari untuk meminta solusi untuk anak saya,” kata Amin.
Lebih lanjut, Amin mengatakan, pengawas sekolah memberikan solusi untuk mencari sekolahan dan untuk permasalahan Dapodik dia yang mengurus. Tetapi, Amin merasa kecewa karena sudah mengadu ke Kacabdin Kota Surabaya hingga Dinas Pendidikan Jawa Timur tidak ada tindakan apapun.
“Apabila tidak ada tindakan tegas atau solusi, saya akan menempuh ke jalur hukum untuk melaporkan E yang telah meresahkan anak saya dan mengganggu psikologi anak saya,” pungkasnya. (Kh)
Dipecat ae wes elok iku
Dan skrg dia jadi wali kelas anakq…smoga gak kejadian spt hanny…Bismillah…sptnya skrg ibu itu sdh agak berhati2