Warga Mengeluh Sumber Air Mati Akibat “Hutan Sonokeling Candipuro Lumajang” Di Gunduli Perhutani

Lumajang, RepublikNews – Pohon Sono keling yang berada di Hutan, Desa Sumberejo Kecamatan Candipuro telah ditebangi oleh Perhutani. Penebangan secara besar-besaran itu menyebabkan berkurangnya sumber air, bahkan salah satu sumber mata air di daerah itu debit airnya mengecil.
Akibatnya, warga setempat kini mulai kesulitan air, seperti yang disampaikan Mbah Priyo (60) Warga Dusun Krajan Desa Sumberejo. Pada media Republiknews.id Kamis (19/11/2020) tadi.
Diceritakan, Jika sebelum kayu sonokeling di hutan daerahnya ditebangi oleh perhutani warga tidak kekurangan pasokan air karena sumber mata air masih banyak. Namun, setelah ada penebangan, timbul permasalahan. Bukan hanya di dusun tempatnya tinggal, tapi juga di dusun tetanga di desanya juga mulai kesulitan air.
“Sebelum ditebang tidak ada masalah, tapi setelah ada penebangan secara besar-besaran, banyak sumber mata air mati, seperti sumber pitek misalnya, sekarang ini debit airnya sudah tidak sebesar dulu. Akibatnya, kami masyarakat dusun sumberejo, dusun Krajan dan dusun bulak manggis sulit air sekarang ini mas, padahal ini musim hujan, apalagi nanti di musim kemarau,” ungkap Mbah Priyo.
Sementara itu Subur, selaku Asper KRPH Candipuro, BKPH Pasirian, SKPH Lumajang, ketika akan dikonfirmasi ke Kantornya untuk dimintai penjelasan terkait penebangan pohon sonokeling diwilayahnya, sedang tidak ada ditempat dan ketika dihubungi lewat telepon belum memberikan jawaban.
Arsyad Subekti Pegiat Lingkungan Lumajang ketika meninjau langsung area hutan tersebut merasa kaget melihat Hutan di Desa Sumberejo. Pasalnya, hutan itu kini sebagian terlihat gundul, tinggal tersisa tonggak-tonggak Kayu Sonokeling pasca ditebang.
Dijelaskannya, Uni Internasional untuk Konservasi Alam IUCN sudah menetapkan kayu sonokeling sebagai kayu langka dan terancam punah. Kayu sonokeling masuk kategori apendiks 2 sehingga peredaran kayu sonokeling lebih diperketat dibandingkan dengan kayu jenis lainnya. Ia juga heran kenapa kayu sonokeling di Candipuro ditebangi, bukan saja yang besar, tapi juga yang kecil juga ditebang.
Namun, dalam hal ini ia hanya ingin menjelaskan terkait dampak penebangan pepohonan untuk keberlangsungan hidup. Walaupun Perhutani sudah punya dasar aturan dalam melakukan penebangangan hutan. Pihaknya mengingatkan akan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum penebangan dilakukan.
“Selain banjir yang bisa terjadi, penebangan pepohonan besar juga bisa menyebabkan kekeringan, apalagi ini pohon yang kecil juga ditebangi, kalau alasan prosedur, masak sih yang masih kecil ditebang, kan belum waktunya, tanah juga kehilangan daya serapnya. Padahal air yang diserap oleh pohon saat musim hujan sangat berguna untuk menyimpan air ketika musim kemarau,” ungkapnya.
Arsyad juga mengingatkan agar Perhutani tidak sekadar mementingkan pendapatan semata, tapi juga harus memikirkan masyarakat sekitar hutan yang membutuhkan sumber mata air untuk keberlangsungan hidup.
“Perhutani jangan hanya pikirkan profit, sementara masyarakat sekitar di abaikan, kalau sudah tidak ada lagi pepohonan besar karena ditebang seperti sekarang ini, maka tidak ada lagi cadangan air yang disimpan, sehingga nantinya bisa menyebabkan kemarau panjang. Peran hutan sangat penting. Sekarang musim hujan saja warga sudah mengeluh, apalagi nanti, pasti sumber-sumber mata air banyak yang mati,” pungkasnya.
Reporter : Suatman Biro Lumajang