
Tuban, RepublikNews.
Dalam rangka untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas Poskestren di Kabupaten Tuban , dan perlunya pendampingan Poskestren yang dilakukan oleh anggota organisasi kemasyarakatan sebagai langkah awal untuk membekali pendamping tentang kegiatan Poskestren dan dalam menyampaikan tugas-tugasnya , maka Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban menyelenggarakan kegiatan Orientasi Pendampingan Poskestren di wilayahnya.
Bertempat di Gedung Korpri Komplek Pendopo Kabupaten Tuban , acara tersebut diikuti 45 Peserta diantaranya dari Pengasuh Ponpes , Kader Santri Husada dan Pendamping Ormas , hadir pada kesempatan itu sekaligus sebagai Nara sumber kegiatan Seksi Promkes Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Diyah Wediningtyas.S.Gz. perwakilan dari Kemenag Kabupaten Tuban Drs.H.Abd.Karim .M.Ag , dan Kasi Promkes dan Pemmas Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban, Endang Sulastri.SKM. Kamis. 22 /10/2020.
Seksi Promkes Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Diyah Wediningtyas.S.Gz. menyampaikan jika pentingnya peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan telah diakui oleh semua pihak-pihak.
“Peran serta masyarakat baik perorangan maupun terorganisasi telah terbukti mempercepat keberhasilan pembangunan kesehatan sehingga derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya dapat dicapai.” ungkapnya.
Ditambahkan oleh Diyah bahwa peran serta masyarakat secara terorganisasi salah satunya adalah dengan mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat .
“Pondok Pesantren sebagai institusi keagamaan yang cukup besar sangat strategis membentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) dilingkungannya yaitu pos kesehatan pesantren , UKBM tersebut didalam melaksanakan kegiatannya lebih mengedepankan upaya promotif dan preventif tanpa mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif.” Jelas Diyah.
Sementara itu , Kasi Promkes dan Pemmas Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban Endang Sulastri.SKM dalam paparannya menyampaikan bahwa
Di Kabupaten Tuban pada tahun 2019 persentase Poskestren dibanding pondok pesantren adalah 54.54% dan tahun 2018 sebesar 53.2% dengan tingkat kemandirian Pratama 35% (17), Madya 38% (18) , Purnama 25% (12) , tahun 2019 dan tahun 2018 dengan Pratama 68% , Madya 14% , hasil diatas dapat disimpulkan bahwa Poskestren yang terbentuk masih di bawah 55% dengan Strata Pratama masih di atas 54.54%.
Disampaikan oleh Endang bahwa tujuan khusus orientasi ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan peserta tentang konsep dasar Poskestren.
“Dalam upaya meningkatkan pengetahuan peserta tentang peran ormas dalam mewujudkan pondok pesantren bersih dan sehat , meningkatkan pengetahuan dan keterampilan khususnya Kader Santri Husada tentang Gizi santri dan cara menentukan Status Gizi , meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan peserta tentang cara melakukan survei PHBS, SMD dan MMPP .” harap Endang
Dan yang tak kalah pentingnya menurut Endang adalah supaya peserta dapat lebih meningkatkan pengetahuan peserta tentang pentingnya kesehatan lingkungan di pondok pesantren serta pengetahuan peserta tentang penyakit – penyakit yang sering terjadi di pondok pesantren.(@nt).